bragafest

Sejarah Parijs van Java

Parijs van Java, telah menjadi satu predikat yang tidak dapat dilepaskan dari Bandung. Sejarah menyatakan bahwa predikat tersebut diberikan oleh warga Eropa yang bermukim di Indonesia semenjak jaman kolonial Belanda, dan menjadikan Parijs van Java sebagai pusat kegiatan mereka, mulai dari kegiatan politik, intelektual, kesenian, budaya, hingga hiburan dan rekreasi. Hingga kini, Bandung tetap menjalankan fungsi – fungsi tersebut. Sebagai ibukota Propinsi Jawa Barat, Bandung menjalankan fungsinya sebagai pusat kegiatan politik di Jawa Barat. Keberadaan beberapa institusi pendidikan terkemuka, menjadikan Bandung sebagai pusat kegiatan intelektual. Banyaknya musisi dan tokoh seni terkemuka yang berasal dan bermukim di Bandung, merupakan bukti nyata keberadaan Bandung sebagai pusat kesenian dan budaya. Tingginya tingkat kunjungan masyarakat dari luar kota Bandung serta maraknya bisnis hiburan, rekreasi hingga perbelanjaan di Bandung, merupakan fakta yang menunjukan bahwa Bandung masih menjadi salah satu primadona hiburan dan rekreasi.

Kota Bandung sejak dahulu dikenal sebagai kota yang memiliki beragam kekhasan yang memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Di era 80-an, Bandung dikenal dengan kelom geulis – nya. Di era 90-an, sentra sepatu Cibaduyut dan sentra Jeans Cihampelas mulai menjadi primadona pusat kunjungan dan belanja bagi masyarakat Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan keberadaan Cibadak Mall, yang menyediakan sandang import dengan harga yang relatif murah. Dan kini, Bandung dikenal sebagai surga belanja bagi masyarakat Indonesia dengan menjamurnya factory-factory outlet yang menjual sandang sisa eksport dengan harga yang sangat kompetitif. Di luar itu, Peuyeum, Oncom, Keripik, Batagor, hingga molen dan brownies, menjadi buah tangan favorit yang selalu dicari oleh pengunjung kota Bandung. Berbagai komponen yang ada di kota Bandung, mulai dari jajanan hingga café, rumah kost hingga property, selalu menjadi objek perhatian masyarakat.

Kenyataan bahwa Bandung telah menjadi salah satu pusat kunjungan yang tidak pernah mati, sangat tidak dapat dipungkiri. Fakta menunjukan bahwa puluhan bahkan ratusan bus, selalu memenuhi tempat parkir pusat – pusat perhatian di kota Bandung, pada akhir minggu. Di hari libur, kemacetan merupakan satu tradisi, baik di dalam kota Bandung, maupun pada setiap akses jalan yang menuju Bandung. Hal tersebut menimbulkan dampak persaingan yang semakin kompetitif antar pusat – pusat perhatian di Bandung.

Asal Nama Parijs van Java

Kota Bandung dikenal sebagai “Parijs van Java” pertama kali pada sekitar tahun 1920 – 1925. Pada saat itu, kota Bandung sedang giat-giatnya dibangun menjadi sebuah pemukiman yang indah dan lengkap dengan sarana-sarana untuk memenuhi kebutuhan warganya. Warga Eropa yang tinggal di Bandung tetap mempertahankan suasana lingkungan kehidupannya di tengah-tengah masyarakat pribumi, baik rumah tinggalnya, gaya hidup, menu makanan maupun cara berpakaiannya sehari-hari.

Kota Bandung tempo doeloe menjadi dikenal sebagai “Parijs van Java” ketika mulai diadakan “Bursa Tahunan” (Jaarbeurs) di sebuah komplek di jalan Aceh. “Jaarbeurs” ini merupakan pasar malam dengan berbagai macam acara dan tontonan, seperti teater sandiwara dan musik yang diselenggarakan setiap tahun pada bulan Juni – Juli. Tidak hanya itu saja. Jalan Braga yang terletak di kota Bandung pun terkenal sebagai pusat belanja dan tempat memajang pakaian model terbaru dari Paris saat itu. Di jalan tersebut juga sering diadakan pertunjukan kesenian setiap malam tertentu. Oleh karena suasana kota Bandung saat itu yang begitu gemerlap dengan suasana ke-eropaan-nya, baik di siang maupun malam hari, mungkin orang jadi menyebutnya sebagai kota Paris dari Jawa (Paris of Java atau Parijs van Java).